(031) 8495399 doni.advokat@gmail.com
EnglishIndonesian

Author: Fica Candra Isnani, S.H.

Berkembangnya dunia bisnis saat ini nyatanya mampu meningkatkan eksistensi profesi notaris dalam membantu pembuatan akta perjanjian. Profesi notaris memang berperan penting dalam menunjang pembuatan suatu akta salah satunya akta perjanjian, mengingat akta yang dibuat oleh notaris memiliki sifat kekuatan hukum yang sempurna dari segi pembuktian yang dikenal dengan istilah akta otentik. Seperti yang diketahui bahwa dalam aturan hukum perdata akta terbagi menjadi 2 (dua) jenis yakni akta otentik dan akta dibawah tangan.

Terkait tugas notaris sendiri, tidak sedikit masyarakat yang belum mengetahui bahwa profesi notaris tidak hanya terbatas pada pembuatan akta otentik melainkan juga dapat melakukan pendaftaran dan pengesahan surat-surat di bawah tangan yang biasa di sebut Legalisasi, Waarmerking, dan melakukan Legalisir. Hal tersebut diatur dalam Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004  Tentang Jabatan Notaris (UU JN) yang berbunyi:

Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Notaris berwenang pula:

  1. mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;
  2. membukukan surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;
  3. membuat kopi dari asli surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan;
  4. melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya;
  5. memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan Akta;
  6. membuat Akta yang berkaitan dengan pertanahan; atau
  7. membuat Akta risalah lelang.

 Baca juga: Likuidasi Perseroan Terbatas

Proses Legalisasi adalah dimana akta dibawah tangan yang belum ditandatangani oleh para pihak sebelumnya, dibawa kepada notaris untuk selanjutnya ditandatangani oleh para pihak dihadapan notaris dan notaris akan menetapkan kepastian tanggal surat dibawah tangan dengan mendaftarkannya kedalam buku khusus. Legalisasi merupakan pengesahan suatu akta yang dibuat di bawah tangan di mana akta tersebut diserahkan kepada notaris dengan keadaan yang belum ditandatangani oleh para pihak dan pada saat itu juga notaris akan membacakan dan menjelaskan isi akta tersebut kepada para pihak yang kemudian menandatangani akta tersebut di hadapan notaris (Prastomo & Khisni, 2017:729). Tujuan dari tindakan tersebut yakni untuk menjelaskan bahwa benar pada tanggal sebagaimana tertulis dalam buku legalisasi, para pihak telah membuat perjanjian di bawah tangan dan menghadap padanya untuk menandatangani surat tersebut sebagaimana tercantum dalam Pasal 15 ayat 2 huruf a UU JN.

Sedangkan Waarmerking, merupakan akta yang di buat di bawah tangan yang pada saat diserahkan kepada notaris untuk didaftarkan, telah ditandatangani oleh para pihak, sehingga akta tersebut hanya terjamin tanggal dan waktu pendaftarannya saja (Prastomo & Khisni, 2017:729). Waarmerking pada intinya adalah sama dengan legalisasi, dimana notaris akan membukukan akta di bawah tangan yang sudah ditandatangani oleh para pihak dengan mendaftarkannya ke dalam buku khusus. Bedanya, jika legalisasi para pihak belum melakukan tanda tangan namun jika waarmerking akta yang dibawa para pihak kehadapan notaris sudah ditandatangani lebih dulu, hal ini sebagaimana tercantum dalam Pasal 15 ayat 2 huruf b UU JN.

Kewenangan notaris selanjutnya yakni legalisir adalah notaris membuat kopi dari surat dibawah tangan serta mengesahkan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya sebagaimana tercantum dalam Pasal 15 ayat 2 huruf d UU JN. Kewenangan notaris terhadap legalisasi, waarmerking dan legalisir terhadap akta dibawah tangan, tidak mengubah status dari akta tersebut menjadi akta otentik. Mengingat definisi akta otentik adalah akta yang yang dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum dalam hal ini adalah notaris.

Baca juga: Kekuatan Alat Bukti Fotokopi Surat Tanpa Dokumen Asli

Dari uraian diatas dapat disimpulkan perbedaan antara legalisasi, waarmerking, dan legalisir yakni legalisasi terlihat pada tandatangan para pihak yang belum membubuhkan dalam akta dan di tandatangani dihadapan notaris untuk selanjutnya didaftarkan sehingga tanggal penandatanganan antara para pihak yang terkait dalam akta dan notaris harus sama. Sedangkan waarmerking, para pihak sebelumnya sudah sepakat dan menandatangani akta terlebih dahulu dan menghadap kepada notaris, sehingga tanggal ditandatanganinya akta oleh para pihak berbeda yakni lebih dahulu dari pada tanggal ditandatanganinya akta tersebut. Untuk legalisir sendiri merupakan kewenangan notaris dalam mengesahkan fotokopi akta dengan akta aslinya yang sebelumnya sudah dicocokan.

Tag: Berita , Artikel , Advokat