(031) 8495399 doni.advokat@gmail.com
EnglishIndonesian

Author: Putri Ayu Trisnawati, S.H.

Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau Intellectual Property Rights merupakan hak yang lahir berdasarkan hasil karya intelektual seseorang. Perlindungan HKI dimaksudkan untuk memberikan bekal pemahaman hukum kepada masyarakat tentang hubungan manajemen kekayaan intelektual baik sebagai penemu (inventor), pemilik, perantara/konsultan, dengan investor (Endang Purwaningsih, dkk, 2019: 1). Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi salah satu faktor penting yang memberikan pengaruh besar terhadap perubahan Undang-Undang Hak Cipta. Teknologi informasi dan komunikasi di satu sisi memiliki peran strategis dalam pengembangan Hak Cipta, tetapi di sisi lain juga menjadi media pelanggaran hukum di bidang Hak Cipta. Pengaturan yang proporsional sangat diperlukan, agar fungsi positif dapat dioptimalkan dan dampak negatifnya dapat diminimalkan (Saidin, O.K, 2015: 196).

Seiring perkembangan teknologi digital, saat ini sedang ramai diperbincangkan mengenai transaksi menggunakan Non Fungible Token (NFT). Fungible dalam Bahasa Indonesia berarti sepadan atau dapat diartikan sebagai tindakan transaksi atas setiap benda yang memiliki nilai yang sama. Contoh: Tuan A mempunyai uang Rp. 100.000,- satu lembar, lalu Tuan A menukarnya dengan pecahan Rp. 20.000,- lima lembar. Tentu nilai tersebut sama dengan satu lembar uang Rp. 100.000,-. Sementara non-fungible merupakan kebalikan dari fungible, yakni aset yang tidak sepadan. Aset yang tidak sepadan ini cenderung lebih sulit untuk ditukar, karena nilainya yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Contohnya bisa berupa rumah, mobil, gambar, foto, lukisan, animasi, tiket, dan lain-lain.

Baca juga: Mengapa Harus Mencatatkan Hak Cipta, Ini Manfaatnya!

Teknologi NFT masih terbilang baru sehingga banyak ruang lingkup dari NFT yang  cangkupannya belum memiliki peraturan. Dalam lingkup Kekayaan Intelektual, NFT  dianggap sebagai milik pribadi yang tidak memiliki wujud, maksudnya barang tersebut tidak bisa dipegang atau disentuh namun mempunyai tingkat nilai tertentu yang ditetapkan pada barang tersebut. Dalam hal ini perlu dipertegas bahwa kepemilikan NFT tidak menjadikan pemilik mempunyai hak yang tidak terbatas atas karyanya. Apabila seniman akan memindah tangankan kepemilikannya atas hak cipta maupun hak eksklusif tersebut kepada kolektor, maka harus dilakukan melalui smart contract. Namun pada dasarnya penggunaan smart contract di blockchain masih prematur dalam hal teknis maupun hukumnya.

NFT sebetulnya adalah token yang unik yang merepresentasikan kepemilikan dari sebuah benda/aset. Contoh aset non-fungible seperti lukisan/karya kreatif yang memiliki sebuah token/unique ID/sertifikat kepemilikan dalam bentuk digital. Setiap aset NFT hanya dapat dimiliki oleh 1 (satu) orang pada satu waktu dan disimpan dengan aman dalam system blockchain, sehingga tidak ada yang dapat mengubah menghapus atau mencuri catatan kepemilikan tersebut.

Sedangkan, Blockchain adalah gabungan dari banyak data yang berada di seluruh dunia yang kemudian merekam jejak digital sebuah cryptocurrency bahkan bisa mencatatkan rekam jejak Hak Kekayaan Intelektual yang sudah dibuat secara digital. Rekam jejak penjualan, history value atau nilainya disimpan di dalam blockchain yang datanya berputar secara global di seluruh dunia. Sehingga ketika memiliki HKI berupa aset-aset digital seperti musik, gambar, yang dikukuhkan menjadi satu NFT dan dicatatkan rekam jejaknya dalam blockchain maka hal tersebut bisa diperjualbelikan, bentuknya tidak ada secara fisik, namun berbentuk digital dan pemiliknya dapat menjual dalam bentuk NFT.

Baca juga: Teknik Penyusunan Drafting Desain Industri

Dari uraian diatas dapat disimpulkan, NFT mempunyai potensi untuk menegakkan hak cipta dengan landasan mekanisme pada blockchain yang transparan. NFT merupakan seluruh hak terkait hak dan pemegangnya, dimana pihak yang sah memiliki hak seperti hak cipta dalam ranah kekayaan intelektual maupun hak kepemilikan atas karya tertentu. Saat ini pasar  untuk NFT sedang berkembang menjadi lebih luas. Pemegang hak cipta akan selalu mendapatkan bagian/hasil dari setiap transaksi jual beli yang dilakukan oleh orang yang memiliki hak kepemilikan.

Hadirnya NFT sebagai aset digital yang baru, diharapkan dapat mempermudah seniman atau kreator digital untuk menjaga karyanya. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh para seniman untuk dapat kembali berkarya ketika mandapatkan kesulitan dalam menjual karya-karyanya secara konvensional. Selain itu transaksi menggunakan NFT diharapkan bisa menambah kesadaran masyarakat Indonesia tentang Hak Kekayaan Intelektual. Namun, yang harus diwaspadai, sebuah karya bisa saja dicuri kemudian dijual menjadi NFT.

Tag: Berita , Artikel , Konsultan Kekayaan Intelektual