(031) 8495399 doni.advokat@gmail.com
EnglishIndonesian

Persekutuan Perdata Doni Budiono & Rekan

Author: Nur Laila Agustin, S.H.

Merek pada dasarnya merupakan tanda yang digunakan utuk membedakan asal barang dan/atau jasa dari suatu perusahaan barang dengan perusahan yang lainnya. Dengan adanya merek pengusaha dapat menjaga dan menjamin kualitas barang dan/atau jasa yang dihasilkan dan mencegah adanya penggunaan atau peniruan yang dilakukan pihak lain tanpa izin. Di Indonesia untuk melindungi merek yang dimiliki maka harus didaftarkan terlebih dahulu di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Merek dilindungi tidak hanya di Indonesia saja namun juga di lindungi di negara lain asalkan merek tersebut juga telah terdaftar di negara tersebut, hal ini dapat dilihat dalam Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (Perjanjian TRIPs).

Tujuan Perjanjian TRIPs adalah untuk memberikan perlindungan hak kekayaan intelektual dan prosedur penegakan hak menuju perdagangan yang sehat, perjanjian TRIPs mengatur norma-norma standar yang berlaku secara internasional tentang Hak Kekayaan Intelektual dan objeknya secara luas, salah satunya yaitu perlindungan terhadap merek (Trademarks) (BPHN, 2013 : 1). Adanya perlindungan merek ini untuk mencegah pelanggaran yang mengakibatkan kerugian di sektor perekonomian baik tingkat nasional maupun internasional. Dalam skala internasional dapat kita lihat sengketa yang baru-baru ini terjadi yakni antara merek dagang Rolex dengan merek dagang Oyster & Pop.

Baca juga: Sengketa Merek Pasta Gigi “Strong” antara Unilever melawan Orang Tua Group

Rolex merupakan merek dagang terkenal karena menjual jam tangan kelas atas termasuk jajaran Oyster Perpetual dan Submariner yang dijual dengan harga berkisar antara $6.500 – $75.000 (Robcorder, 2023). Sedangkan Oyster & Pop sejak tahun 2021 menjual produk jam dinding analog yang menampilkan warna-warna cerah dan teks serta tanda tambahan yang dirancang untuk mengajari anak-anak cara membaca waktu pada tampilan non-digital (Liszewski, 2023). Sengketa ini bermula dari pengacara dari pihak merek dagang Rolex yang memberikan somasi (teguran) kepada pemilik merek dagang Oyster & Pop agar mengubah logo, domain situs web, dan namanya untuk menghindari tindakan lebih lanjut.

Kata “Oyster” ini yang dimaksud memiliki masalah dengan merek dagang Rolex, yakni salah satu jam tangan Rolex yang lebih dikenal dengan Oyster Perpetual. Merek Oyster & Pop memiliki kesamaan dalam ucapan kata maupun suara dengan merek Rolex Oyster Perpetual yaitu “Oyster”. Kedua merek tersebut sama-sama menggunakan kata Oyster, sehingga dapat menimbulkan kesan kepada  konsumen bahwa merek jam dinding Oyster & Pop merupakan salah satu bagian atau memiliki hubungan dengan merek Rolex.

Alasan tersebut yang menjadikan pengacara merek dagang Rolex mengajukan somasi. Namun pemilik merek dagang Oyster & Pop mempertimbangkan somasi tersebut dengan membuat petisi online yang menjelaskan kasusnya dan potensi pembelaan terhadap mereka. Selain itu pemilik merek dagang Oyster & Pop menawarkan kesepakatan untuk tidak akan pernah memproduksi jam tangan dewasa dan tidak akan pernah mengubah mereknya (Liszewski, 2023).

Sangatlah masuk akal jika perusahaan Rolex ingin melindungi merek yang sudah terkenal. Hal ini sesuai dengan perjanjian TRIPs dalam Pasal 15 dan 16 mengatur bahwa pemilik merek terdaftar memiliki hak eksklusif untuk melarang pihak ketiga yang tanpa ijin dari pemilik merek yang bersangkutan untuk memakai merek yang sama atau serupa untuk barang-barang atau jasa-jasa yang adalah sama atau menyerupai untuk nama merek dagang yang telah didaftarkan.

Selain itu dalam Pasal 16 ayat (2) TRIPs Agreement terdapat krieria sifat keterkenalan suatu merek antara lain dengan memperhatikan faktor pengetahuan tentang merek dikalangan tertentu dalam masyarakat, termasuk pengetahuan negara peserta tentang kondisi merek yang bersangkutan, yang diperoleh dari hasil promosi merek tersebut (Sari, 2015 :167). Dari kriteria keterkenalan merek yang dijelaskan dalam Pasal 16 ayat (2) TRIPs Agreement ini, dapat diketahui bahwa Rolex merupakan merek terkenal dengan jam tangan mewah terbesar didunia yang dijual dengan harga berkisar antara $6.500-$75.000 (Robcorder, 2023).

Baca juga: Apa Akibat Hukum Atas Pembatalan Sertifikat Merek yang Telah Dijaminkan Fidusia?

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa merek dagang Rolex merupakan merek terkenal sehingga apabila terjadi pelanggaran terhadap merek tersebut maka sudah tepat dilakukan upaya hukum dengan melakukan somasi (teguran) sebelum suatu perkara di bawa ke ranah Pengadilan. Sama halnya seperti sengketa merek dagang Rolex yang mengajukan somasi terhadap pemilik merek Oyster & Pop agar mengubah logo, domain situs web, dan namanya untuk menghindari tindakan lebih lanjut, karena memiliki kesamaan dalam ucapan kata maupun suara dengan merek Rolex Oyster Perpetual.

Tag: Berita , Artikel , Konsultan Kekayaan Intelektual